Pelet karya Djair, Anomali Hero

Djair Warni yang dikenal lewat karakter ciptaannya Jaka Sembung dan Si Tolol tak diragukan adalah satu dari maestro komik silat Indonesia, yang meskipun goresannya bisa dibilang tidak serapi dan seindah Teguh Santosa atau Ganes Th, namun mempunyai kemampuan penceritaan yang baik dan termasuk melampaui zaman dari segi keberanian pemikiran. Kekhasan pemikiran ini salah satunya ditunjukkan dalam komik serial Jaka Sembung berjudul Singa Halmahera (1973), di mana ada tokoh biseksual di sana (Singa Betina) yang diceritakan hampir saja bercinta dengan Sri, adik Parmin. Tapi ada satu tokoh karangannya yang amat sangat tidak biasa dan berada di luaran hero pada umumnya. Dia bernama Tigor alias “Arjuna” dari dwilogi komiknya yang kurang dikenal berjudul Pelet dan Pekutukan yang digarap tahun 1970-an. Padahal secara materi  komik ini layak dialihmediakan menjadi film, lengkap dengan bumbu seksnya, kesadisannya, dan jelas kleniknya. Sungguh sebuah formula emas untuk menyusun film yang sukses di pasar bukan?
Dari judul dan gambar sampul, kesan apa yang anda dapatkan? Horor?

Berbeda dengan sekuelnya Pekutukan yang mengisahkan perjuangan Muhammad Ilham, seorang santri keturunan Parmin menyebarkan ajaran Islam di desa Pekutukan, komik Pelet berfokus pada jatuh bangunnya seorang pemuda asal tanah Karo, Sumatera Utara, bernama Tigor yang nantinya menjadi lawan Muhammad Ilham. Cerita dibuka di atas kapal yang mengarung ke arah Sunda Kelapa, di mana Tigor yang diusir dari kampung halamannya menolong seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi dari upaya perkosaan nahkoda kapal. Tidak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor diusir keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah ternoda dan merusak nama baik orang tuanya yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti. Niatnya hendak berdagang kandas, modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan inilah dia berjumpa dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya makin jauh ke kegelapan dan menghantarnya menjadi orang jahat.

Bang Tigor yang terbuang di lautan
Tawaran yang mungkin bakal disesali Tigor
Kehilangan barang-barang berharga membuat Tigor menjual suaranya dari satu kedai ke kedai makan lain. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya, bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, yang langsung ditolak oleh Tigor. Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diambil Tigor. Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi, toh perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Durga memanggilnya dengan sebutan “Arjuna.” Siapa yang sanggup menolak?

Masa awal regionalisasi: lagu berbahasa Batak di tanah Betawi
Ah, Sang Arjuna dari Tanah Karo 
Rumah Nyi Durga jauh masuk ke dalam hutan di tepi sungai Cisadane. Besar bagai istana buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain gitar dan menyanyi di kamar Nyi Durga. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Durga di hadapannya, jatuhlah Tigor ke dalam perangkap nikmat duniawi.
Misteri dimulai dari sini
Siapa yang mampu mengelak dari Nyi Durga Larasati?
Salah satu yang menarik adalah cara Djair menggambarkan adegan percintaan. Cukup dengan cara sugestif saja, tanpa perlu eksplisit. Mirip iklan Axe zaman sekarang. 
Sesuatu yang memang telah diinginkan Nyi Durga semenjak mereka berjumpa, menyerap saripati kemudaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai succubus. Oh, maaf bukan hanya bagai, memang IYA, Nyi Durga itu succubus, setidaknya dia pemuja… coba tebak… Dewi Durga. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi Larasati yang molek itu ketika dia menyusuri sebuah sumur tua tembus ke lorong-lorong gelap. Tapi apa dayanya, dia hanya lelaki biasa, Nyi Larasati punya segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena PELET Nyi Larasati.

Nudis? Oh, bugil maksudnya.
Koleksi patung yang begitu hidup.
Ah, tentu saja bagi para penganut Kajian Budaya atau para PC SJW akan dengan mudahnya menjadikan narasi komik Pelet sebagai makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori seksualitas, representasi, stereotipe, male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak hendak mengarah ke sana. Lanjuut.

Dibakar cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman yang selama ini ternyata juga menjadi ‘tunggangan’ Nyi Durga berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda baru Nyi Durga. Mereka dengan segera menemui kegagalan. Nasib keduanya? Mereka dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua bilah patung. Tubuh mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib mengubah jaringan manusia sekeras batu seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ sejak entah kapan. Mereka tak lebih hanyalah mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis yang kalau boleh meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip Melisandre si pendeta merah dari serial tv Game of Thrones. Yah, Nyi Durga tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor, untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta ini saat bersua dengan seorang Kakek Tua yang mengaku suami Nyi Durga yang dulunya bernama Latifah.

Dalam kategori horor, Djair termasuk advance. Coba bayangkan ngerinya orang dijadikan patung.
Sang Kakek Tua, suami Nyi Larasati
Asal usul Nyi Durga Larasati
 Semangat membara Tigor untuk melawan hanya bertahan sekejap, dia sempat memimpin pemberontakan para lelaki budak Nyi Durga yang langsung dapat dipadamkan. Tigor pun bersimpuh memohon ampun. Untuk menguji kesetiaannya Nyi Durga dengan kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah ditolong Tigor dan dalam hati kecil dicintainya. Tigor dengan kesetanan berkuda malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Di sana dia membantai Rani dan kedua orang tua Rani. Dia merenggut jantung Rani mempersembahkannya kepada Nyi Durga. Namun ternyata apa gerangan? Yang ada di tangannya bukanlah jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup, Tigor tak membunuh siapapun. Semua berkat campur tangan Si Kakek Tua yang datang tepat pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang, dia pun jatuh pingsan.

Pemberontakan sesaat
Oh, Nyi Durga ampuni aku.
Tigor membantai Rani dan orang tuanya
Jantung kupersembahkan kepadamu
 Si Kakek Tua mengejar Nyi Durga yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru Nyi Durga bersemayam. Pertarungan tak terhindarkan. Kalah sakti Kakek Tua itu tewas mengenaskan. Cerita belum berakhir di situ. Djair masih menyiapkan kejutan buat pembacanya. Tigor yang dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak memedulikan sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Durga dalam wujud nenek-neneklah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan hidupnya, atas kematian Rani.

wujud asli Mbah Durga
Si Kakek Tua ini menjalankan peran "Kiyai" di film horor, tapi twistnya luar biasa.

Hingga berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkainya sebagai Nyi Durga. Banyak sudah korban yang jatuh. Banyak pula perempuan muda yang dikiranya sebagai Rani dipaksanya untuk kawin. Semua perbuatan itu dilakukan akibat tekanan jiwa. Suatu saat warga desa memergoki pembunuhan itu, mereka mengepung Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian menjadi kunci penting pengikat kisah Pelet dan Pekutukan dengan serial Jaka Sembung muncul menyelamatkan Tigor dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah kelahiranya berujung tragis bagi semua pihak, ketragisan yang melengkapi jalannya menjemput perannya sebagai seorang dark lord.
Pembantaian atas simbah-simbah malang. Siapa yang sangka jadi begini?
Tigor tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai pendekar pembela kebenaran, pembasmi kejahatan. Komik Pelet ini juga tidak bisa dimasukkan ke dalam komik silat walaupun ada silatnya juga. Permulaan petualangannya saja sudah diperkenalkan bahwa Tigor bukanlah orang baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih punya tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia, lebih mendekati dia ke konsep tragic hero sebenarnya, tokoh dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa. Dia hanya seorang manusia pengelana yang terombang-ambing di sungai kehidupan untuk sesekali mendamparkan diri lalu mengapung kembali hanya untuk tersangkut atau membiarkan dirinya menyangkut dalam kekelaman. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat manusiawi. Kisah Pelet ini mengingatkanku pada komik Tuan Tanah Kedawung-nya Ganes Th, jelas tidak sama persis, sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya lebih kuat dibanding adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih kemenangan. Semacam novel grafis lah, hanya saja saat itu belum ada istilah novel grafis.

Rani...Rani
Orang keturunan Arab yang ada kaitannya dengan serial Jaka Sembung
 Sosok Tigor ini bagai anomali jika dihadapkan kepada Parmin. Memang keduanya sama-sama tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak putih, tidak juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan? Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih memberi perhatian kepada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh dari golongan putih. Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan semembosankan) karakteristiknya Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna, tak terbantahkan, bahkan digelari Wali Kesepuluh—sosok yang sangat stoic, sosok bukan-manusia. Tipikal khas hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya. Di sinilah letak keunikan Djair yang berani mengisahkan hero yang berbeda dari biasanya. Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei, ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga, ya? Tapi dia ini juga bukan orang baik. Yah, dia hanya manusia seperti kita juga.

Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon Versi Ringkas

Suatu hari Kapten Rio Dewanto berpamitan kepada keluarga Jenderal Purn. Deddy Nagabonar Mizwar, bapaknya Revalina S. Temat sang tunangan untuk berangkat ke Libanon sebagai komandan Pasukan Garuda demi menjalankan misi perdamaian. Catat ya! Misi perdamaian. Dan yang dimaksud misi perdamaian adalah sesuai dengan apa arti kata “damai” secara harfiah: tidak banyak yang terjadi, kecuali… “Awas, ada roket diluncurkan, sembunyi di bunker! Karena pasukan perdamaian artinya kita tidak boleh ikut campur, …tapi toh kita hadir di sana!

Kapten Rio Dewanto: “Apa kita tak ingin menjelaskan kepada penonton, ada situasi apa di Libanon, mana lawan mana, atau setidaknya ini tahun berapa.”

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit yang perlu kamu ketahui hanya menjalankan perintah tanpa bertanya. Dan yang benar Lebanon pake E, bukan Libanon. Lebanon terdengar lebih keren.”

Kapten Rio Dewanto: “Siap, salah, Ndan!”

Revalina S. Temat: “Ini tahun 2016, Mas Rio, seperti nanti ditunjukkan anggota pasukan Garuda yang pada video call via Wassap.”

Kapten Rio Dewanto: “…Kita tunda menikahnya nanti setelah saya pulang dari Lebanon …untuk menjaga perdamaian. Ya?”

Revalina S. Temat: “Iya Mas, sebagai dokter spesialis saya toh juga sibuk. Pastinya akan muncul subplot menarik melibatkan karir saya di cerita ini kan?”
(Sayangnya itu tidak terjadi)

Setelah adegan berpisah-pisahan di Bandara, Pasukan Garuda sampai juga di Lebanon. Mereka tak menghabiskan banyak waktu untuk memulai misi perdamaian tahap I: Berpatroli.

Komandan: “Ingat Rio, kita ini penjaga perdamaian, tidak boleh terlibat jauh dengan konflik. Ajak anak buahmu berpatroli sekarang.”

Boris Bokir (dengan steriotip Batak): “Bah, aku ini comic relief-nya film ini. Aku siap menggempur musuh, itupun kalau kita punya musuh… kita punya musuh kan?”

Yama Carlos: “dan saya…” (tenggelam dan terlupakan)

Berkendara dalam panser putih, belum apa-apa mereka berada di tengah tembak-menembak yang melibatkan empat vs lima orang, asap, api, roket, senapan Ak47, pasir gurun, dan… oh helikopter!

Kapten Rio Dewanto: “Mundur! Mundur! Kita tak boleh terlibat!”

Boris (dengan steriotip Batak): “Bah, kenapa kita mesti mundur, Kapten?”

Kapten Rio Dewanto: “CGI-nya kw 5, kita mundur atau mata kita akan sakit!”

Semua anggota pasukan pun berlindung di dalam bunker demi keselamatan. Sesudah pertempuran reda mereka baru keluar. Kemudian masuk lagi ketika ada bentrokan lain. Lalu keluar lagi jika sudah kelar. Dan begitu seterusnya.

Berhubung durasi masih dirasa kurang lama, cerita kemudian disusupi dua adegan paling cringeworthy tak terlupakan. Yang pertama Pasukan Garuda memberi kado kue ulang tahun entah kepada Komandan pasukan Lebanon atau kepada militer Lebanon, tidak jelas juga maunya apa. Tapi yang jelas kita jadi tahu Pasukan Garuda berlimpah-limpah waktu untuk sempat bikin kue dan ternyata pasukan Lebanon jarang makan kue. Hore!

Yang kedua, Kapten Rio dan aktor lain yang cukup penting (karena punya dialog dan masuk kredit) berhasil menemukan sebutir lampu natal berkelap-kelip di sebatang pohon yang bukan pohon natal, oleh karenanya layak dianggap mencurigakan (?). Temuan ini entah bagaimana katanya sangat dihargai oleh PBB sehingga harkat pasukan asal Indonesia melejit pesat di mata dunia. Sungguh!

Misi perdamaian di Lebanon tahap II dilaksanakan: Berkunjung ke sebuah sekolah. Di sana Kapten Rio Dewanto bertemu dengan janda anak satu berbodi semlohai bernama Rania.

Kapten Rio Dewanto: “Salam aleykum, ana Ismi Kapten Rio.”

Rania: “Saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, Kapten Rio.”

Kapten Rio Dewanto (tersentak): “Bagaimana bisa?!”

Rania: “Karena ini film Indonesia maka kamu tidak perlu kaget, dan kamu adalah prajurit, jangan banyak bertanya.”

Kapten Rio Dewanto (melihat seorang anak perempuan emo minus dandanan emo duduk di sudut ruang): “Iiih, anak sapa tuh, lutuna…”

Rania (dengan ekspresi sedih): “Itu anak saya, Kapten. Namanya Salma, dia mengalami trauma...” Rania kemudian menerawang keluar jendela. Lalu ditayangkanlah Flashback yang terdiri dari ledakan bom CGI murahan, debu bertebaran, latar tempat yang ke-Arab-araban, dan seciprat darah yang telah membunuh suaminya, ayah Salma.

Kapten Rio Dewanto (dengan voice over suara hati macam sinetron gitu): “Sebagai prajurit penjaga perdamaian, aku berkewajiban mendamaikan hati anak ini, ehm… dan ibunya juga.”

Lalu tidak banyak hal lain yang terjadi, selain mereka sering ketemu, ngobrolin ini itu, ngobrolin Kahlil Gibran (serius!), jalan-jalan, bergandengan tangan, makan bareng. Pendeknya ini hanyalah adegan orang pacaran hanya saja latarnya di Lebanon. Montase bagaimana mereka berduaan atau bertigaan (dengan Salma) tersaji di layar bioskop selama tigaperempat durasi. Hingga tiba masanya Pasukan Garuda pulang kandang.

Kapten Rio Dewanto: “Rania, Salma, saya akan pulang ke Indonesia. Saya punya Revalina untuk dinikahi. Sampai jumpa.”

Rania dan Salma berpelukan bertangisan. Adegan ini cukup menrenyuhkan hati andai saja Boris Bokir tidak membikin penonton tertawa.

Sementara itu di Indonesia Revalina dikenalkan oleh orangtuanya dengan Baim Wong yang adalah seorang pengusaha.

Deddy Mizwar (dengan logat Pak Haji): “Jadi, kamu pengusaha apa Anak Muda?”

Baim Wong: “Saya sedang mengusahakan supaya penonton sebal sama saya, Pak.” Baim beralih ke Revalina, “Saya dengar dari sutradara kamu dokter spesialis?”

Revalina S. Temat: “Saya dokter spesialis gadungan kandungan.”

Baim Wong (bersenyum pleboi): “Tahukah kau, aku mengandung cinta untukmu.”

Revalina S. Temat jengah, dia memalingkan muka tapi menoleh kembali setelah Baim melahirkan dua buah mobil dan sebongkah apartemen ke hadapannya. Mata mereka bertumbukan memancarkan binar-binar asmara. Begitulah, kawan. Agar tidak gagal dalam percintaan, cobalah beri pasanganmu mobil dan atau apartemen seperti dibuktikan oleh film ini. Rencana pernikahan Baim dan Revalina pun langsung dibicarakan.

Tepat pada saat itulah, Kapten Rio Dewanto datang bermaksud untuk melamar Revalina. Dia hanya ditemui Jend. Purn. Deddy Mizwar di tepian pinggiran teras rumah.

Deddy Mizwar (dengan logat Nagabonar): “Sebagai prajurit, perjalananmu masih panjang. Kamu mungkin tidak bisa bersanding dengan anak saya, Revalina. Tapi kamu masih bisa jadi mayor lalu mengundurkan diri mencoba peruntungan maju sebagai gubernur di pilkada, yang mana itulah yang saya lakukan.”


Bahasa ngode a la militer dipahami dengan baik oleh Kapten Rio. Dia berjalan gontai ke arah matahari terbenam, hujan turun dengan deras, air mata merendam hatinya yang pilu. Tepat sebelum The End judul film pun muncul, kali ini sudah berganti menjadi, Pasukan Garuda: I Wound My Heart in Indonesia.

Film Headshot (review)

Pada sebuah penjara kumuh nan temaram mendekamlah di salah satu biliknya penjahat super sadis bernama Sunny Pang. Kita semua langsung tahu dia bejat karena duo sutradara Mo Bros berkeras agar Sunny Pang memajang tampang licik sepanjang durasi lengkap dengan lensa kontak merah di mata kiri, dan dia pun dipanggil dengan nama yang amat tipikal: siapa lagi kalau bukan, Lee… karena dia berasal dari Cina (kan?) jadi itu adalah satu-satunya nama yang masuk akal atau…tidak tahulah.

Apapun itu, Sunny alias Lee meloloskan diri setelah segerombolan penjahat yang bisa keluar dari sel adu tembak secara terbuka dengan satu peleton penjaga penjara yang entah bagaimana melupakan pelatihan menghadapi situasi krisis semacam ini. Mo Bros yang dari tadi sudah gatal ingin mengejutkan penonton kemudian menyemburkan dua puluh liter darah ke segala penjuru.


title sequence

Segera begitu lepas dari penjara, untuk membangun betapa kejinya Sunny Pang, ditemani oleh Julie Estelle, menembaki, menusuki, membacoki, lalu cuci muka dengan darah anggota geng yang menjadi distributor barang-barang haramnya, karena bersembunyi bukanlah konsep yang dipahami dengan baik oleh buronan macam Sunny.

“Haah, sebagai seorang penyelundup aku masih sangat membutuhkan distributor, tapi karena aku juga bandit top maka aku wajib membuat penonton kesal padaku. Dilema!” ujar Sunny. Jarinya sudah diujung pelatuk pistol siap melubangi dahi seorang Centeng Distributor.

“Tunggu Bos, jangan tembak saya. Saya punya info. Iko Uwais masih hidup.”

“Masih… hidup?” Sunny mendelik dengan licik.

Siapakah Iko Uwais? Jeng jeng jeng…

Kita beralih ke tempat lain, di sebuah rumah sakit yang bukan di Jakarta—barangkali alasan bujet, mungkin pula Mo Bros ingin menjauhi Jakarta yang lekat dengan citra The Raid series—terbaring dalam keadaan koma selama dua bulan Iko Uwais, bintang utama The Raid yang daripada menanti terlalu lama untuk bermain di sekuel garapan Gareth H. Evans mau berperan menjadi seorang lupa ingatan bernama Ishmael. Ingat ya, Ishmael. Bukan Ismail! Ismail mah kampungan, Ishmael lebih bisa dijual!

Rupanya dokter Uayuu selama ini telah menungguinya dan merawatnya dengan kasih sayang karena di rumah sakit terpencil orang sakit jumlahnya mendekati nol, makanya dokter macam dia jadi berlimpah waktu luang. Saat itulah Iko sadar dan bangkit terhenyak dengan gelagat khas film Hollywood bila si aktor bangun dari mimpi buruk. *yah, seperti itulah. Nangkap kan?*

“Dimana gue, sejak kapan gue di sini, siapa gue, apa yang terjadi sama gue, kenapa gue begini, gimana gue sampai di sini ? Lima W satu H? gue harap film ini menjawab semuanya?” Iko Uwais bertanya tanpa henti sambil memegangi kepalanya.

 “Iko, sabaaar. Kamu seharusnya orang Sumatra atau… apalah. Bukan Jakarte. Berhenti bilang gue.” dokter Uayuu mencoba menenangkan Iko.

“Apakah ini film eksyen? Tolong katakan ini memang film eksyen, bukan drama. Mengapa dari tadi belum ada adegan silatnya? Jangan paksa gue untuk aktiiing. Gue gak bisa aktiiing!” Wajah Iko mulai terlihat cemas. Mungkin sebenarnya dia bisa akting juga.

Mendengar racauan Iko, Mo Bros lantas mengirim Si Centeng Distributor masuk ke ruang periksa dokter Uayuu. “Arhh, Iko. Lihat aku melecehkan dokter Uayuu. Kamu harus menghajarku jika ingin menyelamatkannya.”

Bagai disundut rokok yang membara, Iko dengan hati riang meremukkan wajah Si Centeng tanpa nama itu hingga tak berbentuk lagi.

“Oh, Iko pahlawanku. Terimakasih…” dokter Uayuu mendekap Iko dengan hangat membuat Audy Item Uwais menangis semalam.

Mereka berdua lantas melupakan insiden kecil itu, karena keesokannya dokter Uayuu pulang kampung. Dan yang kumaksud kampung adalah Jakarta yang berstatus Ibukota, jadi lebih tepat dibilang pulang kota. Iko mengantar dokter Uayuu hingga ke pintu bus, membuat anak buah Sunny, Tano//Tejo  mengira Iko turut naik ke dalamnya.

Belum berapa jauh berjalan bus butut itu dihadang Tano//Tejo yang diperintahkan untuk menghabisi Iko Uwais. Tidak menemukan Iko di dalam mereka jadi ingat peran mereka sebagai penjahat dan mereka belum berbuat banyak supaya penonton ikut sebal kepada mereka. Maka dengan senang gembira Tano//Tejo menyemprotkan peluru ke seluruh penumpang bus seakan mereka prop yang terbuat dari steriofoam. Mo Bros bermasturbasi menonton loncatan lima puluh liter darah.

“Hei lihat, ada cewek ayu!” Tano//Tejo cengengesan saling menapakkan tangan.

“Itu…memang nama saya… pemberian dari pengetik tulisan ini yang punya obsesi tidak sehat kepada saya.” Jawab dokter Uayuu.

Berhubung dokter Uayuu terlanjur terlibat dalam plot, dia berkewajiban diculik dan disekap oleh anak buah Sunny demi melengkapi garis takdirnya sebagai perempuan di film ekyen sejak era 80-an.

Iko Uwais datang terlambat di TKP (Tempat Kejadian Pembantaian). Dokter Uayuu tidak ada di situ, bus dalam keadaan kosong. Maksudku tidak benar-benar kosong sih. Ada beragam jenis sobekan kulit; serpihan daging; serbuk tulang; percikan darah, pendeknya semua yang tadinya adalah manusia. Sesuatu yang biasa dilihat Iko seharusnya, tapi entah mengapa dia seperti mual. Iko hendak keluar dari bus, namun bus itu disergap gerombolan penjahat (lagi). Iko dengan sigap siap sedia melumat mereka semua tanpa ampun.

Tiba-tiba Epi Kusnandar muncul menolong Iko dari Penjahat#34 yang hendak membokong. Dia kena babat, tiga liter darah muncrat dari dadanya yang terbelah.

“Ahh…, siapa lo?” tanya Iko.

“Saya Epi…, saya yang menyelamatkan kamu dari tepi pantai dan membawamu ke rumah sakit… sekarang saya mati…selamat tinggal…” Epi pun mati dengan mengenaskan, tapi lebih karena penonton tidak tahu kalau dia ternyata Epi Kusnandar.

“Oh…, oke…” Iko baru akan menunjukkan ekspresi kesedihan dan kemarahannya tapi POLISI keburu menangkapnya.

Di Kantor Polisi Iko diinterogasi AKP Teuku Rifnu Wikana! Sungguh cameo yang tak terkira. Penampilan Teuku Rifnu menggoyahkan semangat akting Iko.

“Astaga, gue harus berhadapan dengan Jokowi muda? Ampuni saya Pak. Saya baru berniat menjalankan nawacita dan ikut tax amnesty namun belum kesampaian.” Kata Iko dengan nada rendah.

“Apaan sih!?” sembur Teuku Rifnu, “Jawab siapa sebenarnya kamu? Mengapa kamu terlibat dengan gengnya Sunny Pang?!”

Gue juga gak tahu Pak, gue harap film ini akan mau menjawab semuanya.”

Teuku Rifnu mulai mencium masalah, “Apa aktingku terlalu bagus untuk film ini?” Jawabannya adalah IYA. Teuku Rifnu pun tewas. Lima setengah liter darah mengucur dari lehernya yang tertembus golok komplotan penjahat yang menyerbu Kantor Polisi.

“Ih, yang bener, penjahat menyerbu Kantor Polisi? Kirain cuma teroris yang berani. Ini berarti gue harus kerahkan semua ilmu silat gue!” Benar, ini adalah saatnya Iko untuk menghadapi…

STAGE #1: Police Station (vs. MINI BOSSES #1)

Dari pintu masuk nongol Tano//Tejo, duo pentolan cecunguk dengan karakteristik sadis gila. Aku harus bilang kalau aku tidak tahu yang mana yang namanya apa. Mereka jarang memanggil nama satu sama lain. Jadi anggap saja mereka satu orang ya, toh bisa saling menggantikan.

“Ini saatnya Iko. Kita yang sudah seperti saudara ini berhadapan juga!” Tano//Tejo bersorak.

“Saudara apa? Sejak kapan?!” Iko tersentak mendengarnya.

“Sepertinya kamu masih lupa ingatan.” Ucap Tano//Tejo.

“Gak juga. Sebetulnya gak jelas apa aku pura-pura lupa ingatan atau kapan mulai ingat. Mungkin kalau Mo Bros mau lebih kreatif daripada sekedar eksposisi gue bisa lebih menjiwainya.” Ucapan Iko sangat menyengat tapi Mo Bros tutup telinga.

Tunggu. Kalian ingat bagaimana netizen bertanya-tanya, dikemanakankah pistol oleh para penjahat di The Raid 2, mengapa mereka tidak memakainya?  Ini dia! Mo Bros akan menggunakannya secara simultan, bergantian dengan silat. Dan yang aku maksud dengan silat adalah kesuperioritasannya di atas pistol. Mereka lalu bertarung dan bermain petak umpet umpat di antara meja kantor dan bertarung lagi lalu bersembunyi lagi.

“Kami ingin darah. Kami ingin darah. Kami ingin darah!” Tano//Tejo mengucapkannya bagai mantra.

“Baiklah, ini dia darah. Darah lo sendiri!” Iko menembakkan shotgun. Tujuh seperempat liter darah muncrat dari kepala Tano… atau Tejo(?), aku sungguh tidak tahu. Iko melanjutkan gerakan Finish Him ke Tejo…atau Tano(?) dengan menyulap mukanya jadi bubur disertai aliran darah sebanyak sembilan liter.

STAGE #2: Deep Forest (vs. MINI BOSS #2)

Iko melanjutkan misinya ke tengah hutan di mana tersedia tempat yang lapang dan nyaman untuk baku pukul, kebetulan sekali!! Dia dicegat oleh Baseball Bat Man Besi. Misi baru: bunuh Besi untuk maju ke Stage 3!

Besi membuka dialog, “Iko, ini aku… eh? Nama karakterku BESI? Setelah jadi Manusia Pentungan aku jadi Besi?"

"Setidaknya namamu masih keren." hibur Iko.

"Shit! ...ya kurasa. Setidaknya juga penampilanku lebih sophisticated. Lihat kumisku yang lancip, rambutku yang dikuncir ke atas, dan aku pakai kacamata. Lihat Iko, lihat.”

“Jadi kamu hipster nih?” ujar Iko tak ambil peduli.

Sakit hati karena diejek, Besi mendadak menghilang dari pandangan kamera.

“Astaga, kemana kau pergi?” Iko nampak bingung.

“Kalau kita sudah seperti saudara bukankah kamu tidak usah terkejut dengan gaya bertarungku?” Ternyata Besi ada di atas pohon, entah bagaimana.

“Butuh lebih dari eksposisi dan flashback untuk membangun rasa kedekatan!” sergah Iko.

“Itu belum apa-apa dengan yang menantimu di Stage 3!” Besi menyerbu dengan pentungan besi.

Mereka bertarung lagi. Kamera berputar-putar demi membedakan diri dari The Raid series dan Bourne series. Ini membuat Besi menjadi pusing. Iko dengan gampangnya menghantam wajah Si Besi.

“Oh, ada apa dengan Mo Bros dan wajah? Kenapa mereka begitu membenci wajah?” Besi menyemburkan sebelas liter darah dari mulutnya.

“Dandananmu terlalu basi, Besi!” Iko menuding ke kamera, “yeeah!”

STAGE #3: Beach (vs. MINI BOSS #3, mini boss lagi???!!!)

Iko berlari ke Pantai, karena… kenapa tidak? Dia dihadang oleh Julie Estelle. Mereka bertarung lagi selama sepuluh menit. Belahan dada Julie terpampang di depan kamera, sesuatu yang jarang bisa dilihat belakangan ini. Makasih ya KPI. Karena anda juga belahan dada terasa istimewa.

“Kenapa kita harus bertarung di pantai sih?” tanya Iko.

“Supaya …romantis? Tak ingatkah kamu Iko, betapa mesranya kita dahulu? Kamu tidak ingat Sunny adalah ayah kita yang baik kepada kita semua…” Julie balik bertanya.

Iko memotong, “Aneh, kalau memang kita dulu mesra kenapa tidak ada flashbacknya? Entah adegan itu sudah dibuat tapi disensor KPI atau tidak dibuat agar tidak melukai perasaan Audy…dan gue mesti percaya kita dulunya adalah sepasang kekasih? Astaga!”

Tersinggung akan indikasi bahwa aktingnya payah, Julie menusuk perutnya sendiri dengan pisau. Kali ini hanya dua liter darah membuncah merembes ke air laut.

“Tidak…,oh…jangan Julie, tidak…” Iko baru akan menyajikan ekpresi trenyuh dan tersentuh. Tapi Mo Bros menyuruhnya segera ke stage berikutnya.


FINAL STAGE: Bunker (vs. MAIN BOSS)

Iko Uwais memasuki bunker dan membebaskan dokter Uayuu dari kepungan para penjahat. Mereka ingin segera keluar dari bunker. Tapi Sunny menghalangi.

“Ha ha ha, Iko anakku. Kamu pasti tidak menduga akulah yang kamu hadapi di final boss fight ini.” Mata Sunny menyala-nyala.

“Astaga, belum cukupkah pertarungannya? Penonton sudah capek tahu?” Iko terkesiap,  “dan lihat tempat ini. Ruangan kosong empat dinding yang datar dan hambar! Akan sungguh sangat menjanjikan baku hantam yang seru, YA?”

But, the directors said they still got sixteen more litres of blood and it’s all for me.” Sunny mencoba membantah.

“Ngapain lo ngomong bahasa linggis? Tukas Iko.

Because it will add some depths in my character.”

Really?

Kesal karena diajak ngomong pakai bahasa linggis, Iko menyerang Sunny Pang ayah angkatnya. Jujur, aku sudah kehilangan minat menonton perkelahian yang berlarut-larut ini. Intinya, gaya bertarung mereka berbeda. Sunny Pang menggunakan jurus yang kutebak sih cakar harimau dari Shaolin. Sungguh, ini gak bohong! Cakarnya bisa merobek kulit lengan Iko. Sedangkan Iko menggunakan silat aliran… pokoknya silat.

Menyadari ruangan itu terlampau kosong dan tidak ada yang bisa dimanfaatkan untuk jadi plot device. Sunny menghambur keluar bunker,  “Let us continue this fight outside!” teriak Sunny.

Why?

It needs to be more dramatic.

Dan yang dimaksud dramatis adalah hujan! Karena, kenapa tidak? Mereka masih bertarung lagi dan lagi untuk beberapa jurus. Tapi kali ini Sunny Pang sudah demikian terdesak.
Iko, I never told you how much I love this forest.” Sunny merengek.

“Huw…I mean…How?” Jawab Iko sekenanya.

 Sunny menghujamkan dirinya sendiri ke dahan kayu yang tajam, karena di film ini dahan kayu terbuat dari besi stainless steel jadi tidak akan pernah lapuk. Delapan belas liter darah membanjiri tubuh Sunny.

“Ukhh…, sutradara bilang enambelas liter…, eekkhh” Sunny Pang pun tewas.

Dokter Uayuu menghampiri Iko, “Iko, kau makin menegaskan signature-mu.”

“Bahwa gue adalah the next action star in Asia?”

Dokter Uayuu meraba pipi Iko, “Bukan, wajahmu yang dihiasi darah dan luka bikin kamu lebih ganteng.”


fighter

“Oh…, ok…” Iko baru akan menampakkan ekspresi sedih sekaligus tegar, tapi dia keburu pingsan.

...

Kita beralih ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Iya, Jakarta! Akhirnya mereka berdua pulang kota juga. Di situ dokter Uayuu sedang menunggui Iko Uwais (lagi) yang sedang koma (lagi). Tiba-tiba seorang cameo masuk.

“Astaga, Ario Bayu. Ngapain kamu di sini!” sapa dokter Uayuu.

“Aku adalah Komisaris Polisi, tugasku adalah eksposisi. Aku di sini berfungsi menjelaskan plot. Begini ceritanya: Iko cilik diculik oleh Sunny, dia dididik jadi pembunuh, dst., dst., bla, bla. Iko tak mau lagi, dia menjadi informan buat kami, dst., dst., bla, bla., demikian.” Ario Bayu mengakhiri presentasi cerita pakai Powerpoint.

 “Woow, itu cukup detail. Tapi… whatever. Yang penting penonton puas ngelihat adegan tonjok-tonjokan dan darah kan?” dokter Uayuu tersenyum manis ke kamera.

“Dan, gue masih hidup. Berarti bakal ada Headshot 2, kan?” Iko berharap dengan raut memelas.
.
.
.
Mo Bros pura-pura tidak dengar. Mereka menyetel musik rock keras-keras sambil berendam bareng dalam bak mandi berisi seratus liter darah merevisi naskah The Night Comes For Us memastikan akan lebih banyak darah.

TEE'END